Disorientasi Penyusunan Annual Report di Bawah Rezim ARA

Annual Report bukan semata mengolah kalimat-kalimat indah serta desain visual memikat. Tetapi harus mampu menyajikan informasi faktual yang dikemas secara komunikatif sesuai target sasaran pembaca untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Perusahaan.

Itu adalah rumus baku yang menjadi pedoman saya selama ini. Kalimat tersebut   tidak saya kutip dari manapun. Tetapi, sebuah hasil renungan dari penglaman menggeluti annual report selama 25 tahun ini. Jadi, bolehlah itu saya klaim sebagai quote orisinil dari saya.

Baiklah. Lantas apa arah dari pesan kalimat tersebut?

Sejak rezim ARA, saya melihat terjadinya disorientasi annual report. Dokumen tahunan perusahaan ini dipaksa menjadi media berkacamata kuda. Ratusan perusahaan setiap tahun berlomba-lomba menyusun annual report hanya dengan satu tujuan: memenuhi target kejuaraaan ARA.

Annual report sebagai media komunikasi perusahaan, didesain memang untuk memenuhi target sasaran pembaca untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Perusahaan. Nah, apakah penerbitan annual report tersebut sudah disingkronkan dengan target-target dan tujuan Perusahaan?

Perusahaan dalam suatu periode, masa, serta kondisi yang dialami secara dinamik, memiliki constraint dan tujuan yang spesifik. Masing-masing perusahan memillki sasaran dan tujuan pada tiap tahun buku penerbitannya. Di sinilah, peran annual report seharusnya dieksplorasi lebih jauh. Bukan hanya memenuhi kriteria-kriteria ARA.

Tampaknya, fungsi yang demikian itulah,  selama ini terabaikan dari penerbitan annual report. Utamanya semenjak gegap gempita ARA. Akibatnya, semua penyusun dan penerbit annual report berlomba-lomba menumpahkan semua isi perut informasi perusahaan. Sampai jika perlu informasi dapur perusahaan pun, dipamerkan.

Hasilnya, beratus-ratus halaman buku annual report itu  harus dibuat. Rata-rata annual report berstandar ARA berketebalan antara 400 – 700 halaman.

Setelah buku itu terbit, lalu dikirimkan kepada panitia ARA. Logika saya sulit membayangkan bagaimana tim juri ARA memeriksa satu persatu dengan seksama. Dan, tampaknya panitia sudah kewalahan. Lalu membuat aplikasi penjurian dengan dalih self assessment. Maksudnya, agar mereka tidak repot membaca satu per satu secara manual buku-buku tebal dari sekian ratus perusahaan tersebut.

Buku laporan tahunan itu, sebetulnya tujuan utama disajikan untuk para  investor dan stakeholders perusahaan. Bukan laporan untuk Panitia ARA. Kita juga sulit membayangkan bahwa mereka  memiliki cukup waktu membaca seluruh isi buku itu. Akhirnya, seringkali para konsultan ketiban bonus tugas membuat summary dari annual report setebal 700 halaman itu ke dalam paper 5-10 halaman.

Sampai kapankah hal itu akan terus berlanjut?

ARA yang tak lain dan tak bukan adalah  kontes pelaporan GCG itu, bukan suatu yang aneh bila kelak  hilang. Hilang karena semua perusahaan sudah merasa sangat GCG sehingga merasa tidak butuh lagi pengakuan ARA. Atau hilang karena faktor lain seperti tren pasar yang berubah.

Sebagai contoh. Sebuah perusahaan BUMN yang dalam lima tahun berturut-turut juara I ARA, tahun ini sengaja absen tidak ingin ikut ARA. Perusahaan ini tentu memiliki alasan sendiri. Kebetulan, saya  pernah mendampingi perusahaan itu sehingga Juara I pada Tahun 2012 dan 2013.

Kita pernah mengalami kekosongan ARA pada tahun 2018. Dan sekarang mencoba dilanjutkan lagi dengan harapan adanya kejutan. Dan ternyata, memang terjadi kejutan betulan karena sistem penjurian baru yang prematur itu ternyata belum sesuai harapan. Perusahaan-perusahaan penerbit annual report seolah jadi kelinci percobaan sistem.

Pelajaran yang diperoleh dari kasus ini adalah, perusahaan-perusahaan penerbit annual report, penulis annual report, dan konsultan annual report, perlu melakukan reorientasi dalam kerja kreatif mereka. Mereka harus berfokus kepada fungsi dan peran annual report itu sebagai media komunikasi korporasi kreatif.

Pertimbangan paling utama dalam setiap rencana penyusunan annual report haruslah dikedepankan target pembaca. Apa tujuan spesifik suatu perusahaan. Dengan pemahaman  demikian, maka akan lahir suatu stretegi konten berikut kreatifitasnya  secara  selaras.

Hal tersebut merupakan suatu keniscayaan. Baik mau ikut ARA atau pun tidak. Jadi bukan dibalik bahwa semua kerja yang melelahkan itu dibuat karena untuk dan kemauan ARA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s