Juara ARA itu Lahir dari Tekanan dan Ancaman

Dana Pensiun Perkebunan, Juara 1 ARA Katagori Dana Pensiun

Lihatlah wajah-wajah sumringah itu. Wajah-wajah kemenangan penuh suka cita. Moment indah yang seolah tak boleh siapapun mengusik mereka.

Tapi jangan lupa bertanya: darimana ekspresi bungah yang demikian itu bermula?

Semua itu bermula dari harapan. Harapan adalah kata halus dari ancaman. Mengancam adalah ekspresi dari keinginan yang kuat untuk meraih sesuatu.

“Pak Anab, Tahun 2016 kita masuk peringkat tiga juara ARA. Kita berharap tidak hanya bertahan tetapi bisa naik peringkat”, demikian kalimat pidato Sang Direktur Utama pagi hari itu pada saat mengawali proyek.

Kalimat datar itu tertuju ke saya. Disaksikan oleh dua direksi beserta seluruh jajaran yang hadir di sana.

Jelas itu ancaman bagi saya. Cambuk berapi yang panas berduri. Kalau saya gagal, itu berbahaya bagi reputasi saya.

Maka, saya harus terima ancaman tersebut dengan positif.

“Menjadi juara itu bisa diupayakan. Tetapi mempertahankan diri untuk tetap juara itu jauh lebih berat daripada menjadi juara”, jawab saya singkat.

Itu bukan ngeles. Bukan diplomasi. Apalagi mencari apologi.

Tetapi, saya hanya hendak menyamakan posisi. Membangun kesadaran yang berimbang antara kedua belah pihak.

Lalu saya tegaskan bahwa: saya siap membantu untuk mempertahankan Annual Report lembaga keuangan tersebut tetap juara.

Namun, dengan syarat:

“Saya tidak ingin juara sendirian. Semua yang hadir di ruangan ini haruslah bermental juara”.

Sebab, untuk menjadi juara itu mudah karena lawannya sedikit. Maksudnya, mereka yang ikut kontes itu sangatlah sedikit yang benar-benar bermental juara.

Artinya, semua orang yang terlibat dalam penyusunan AR lembaga itu haruslah memiliki sikap, pemikiran, serta tindakan beratandar para juara.

Eloknya, Pak Dirut merespon baik.

Sebab, dengan susunan, nada, serta kalimat yang sama, saya pernah disemprot habis-habisan oleh seorang Dirut sebuah bank. Dengan sumpah serapah.

Maka pengerjaan penyusunan Annual Report itu pun berjalan. Dengan lika-liku dan karakter unik yang baru saya temui di perusahaan itu. Yang seringkali bikin urat tegang dan tensi naik.

Singkat cerita, buku laporan tahunan mereka lolos. Masuk final. Karena itu, saya diminta datang untuk memberikan brief kepada direksi.

Pada tahap final, penjurian Annual Repert Award (ARA), terdapat sesi interview para direksi dan komisaris. Di hadapan enam sampai tujuh orang juri. Situasinya akan mirip sidang doktoral.

Inilah tiba saatnya situasi dibalik. Setelah beberapa bulan bekerja keras penuh tekanan, saatnya melancarkan pukulan Taichi.

Di ruangan itu saya katakan:

“Pak Dirut, tugas kami sudah selesai. Sesuai harapan Bapak. Bahkan, skor nilai yang keluar aplikasi ARA sudah naik sangat signifikan. Layak juara satu.

Sekarang, lolos juara atau tidak, ada di tangan Bapak. Kalau sampai gagal juara, itu kesalahan Bapak!”.

Kini, ganti saya yang “mengancam” klien saya. Sekali-kali perlu juga bersikap tegas.

Seorang kolega konsultan Annual Report tadi malam kirim kabar ke saya. Isinya: Annual Report yang saya kerjakan itu meraih Juara 1. Untuk katagori Dana Pensiun.

Rupanya “ancaman” saya itu bekerja. Pak Dirut dan jajarannya telah menjalani sesi penentuan penjurian dengan sukses.

Sebab, tak jarang, annual report yang mestinya juara, bisa terlempar pada sesi wawancara juri.

“Mas, jangan menunduk terus. Sekali-kali pemberi kerja itu perlu dikerasi juga ha ha ha”, seloroh saya.

Memang, para juara itu lahir dari ancaman dan tekanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s